![]() |
Gyfandi Mecca Firstson Cusy (Foto/IST) |
Kesenjangan akses internet dan kurang meratanya penyebaran internet di Indonesia menggambarkan tantangan serius dalam menghadapi pemerataan pembangunan digital. Meskipun internet sendiri telah menjadi kebutuhan dasar dalam mendukung pelaksanaan pendidikan, ekonomi, dan komunikasi. Namun, akses internet sendiri masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan, terkhusus di pulau Jawa dengan penetrasi persentase paling tinggi, yakni mencapai 83,64%.
Hal ini tentu berbanding terbalik dengan wilayah timur Indonesia, seperti Papua dan Maluku dengan persentase 69,91%. Bahkan di wilayah Sulawesi sendiri hanya menyentuh angka 68,35%. Bahkan ada beberapa daerah yang sama sekali belum terjangkau oleh internet. Ketimpangan ini tidak hanya mencerminkan masalah infrastruktur saja, tetapi juga menggambarkan, kesenjangan sosial dan ekonomi yang lebih luas.
Salah satu hambatan atau penyebab utama terjadinya kesenjangan adalah faktor geografis. Daerah-daerah pegunungan, pulau-pulau terpencil, dan distribusi penduduk yang tidak merata menyulitkan pemasangan infrastruktur seperti kabel fiber optik dan tower BTS (Base Transceiver Station). Yang menyebabkan sulitnya penyebaran internet secara merata di Indonesia. Selain hal-hal itu, keterbatasan investasi dari operator telekomunikasi di daerah yang kurang menguntungkan secara ekonomi semakin memperburuk kondisi ini.
Di sisi lain, kemampuan literasi digital masyarakat juga memengaruhi ke efektivitasan dalam mengadopsi teknologi di Kawasan yang sudah memiliki akses ke internet. Tanpa adanya edukasi yang memadai, akses internet tidak akan bekerja secara optimal dalam mendukung kemajuan masyarakat.
Kesenjangan dalam akses internet memiliki dampaknya tesendiri. Kesenjangan dalam akses internet menciptakan ketimpangan peluang, khususnya dalam bidang pendidikan dan ekonomi. Kita ambil contoh pada saat pandemi misalnya, banyak siswa di daerah terpencil yang tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran secara daring karena keterbatasan jaringan atau internet. Hal ini tentu akan memperbesar atau memperlebar kesenjangan pendidikan antara daerah perkotaan dan pedesaan (rural). Lalu dalam ruang lingkup ekonomi, wilayah dengan akses internet yang minim akan kehilangan juga potensi dalam perdagangan digital dan transformasi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Ada beberapa solusi yang dapat digunakan dalam mengatasi kesenjangan internet di Indonesia, muali dari pembangunan infrastruktur digital. Dengan pembangunan infrastruktur figital, pemerintah Indonesia melalui Kominfo dapat meluncurkan beberapa proyek seperti pemasangan kabel optik Palapa Ring dan Satelit Satria-1 yang dimana digunakan untuk menjangkau wilayah terkecil. Namun, hal ini tentu saja keberlanjutannya proyek ini membutuhkan beberapa kerja sama atau kolaborasi dengan berbagai pihak swasta dan komunitas local untuk memastikan ke efektivitasan nya.
Yang kedua, dengan pemberian subsidi dan insentif. Pemberian subsidi dan insentif kepada pihak operator telekomunikasi, dengan maksud untuk membangun jaringan di daerah dengan profitabilitas yang cukup rendah. Dengan pendekatan ini akan mendorong beberapa investor untuk menyuntikkan dana di wilayah yang sulit dijangkau.
Yang ketiga, membuat program peningkatan literasi digital. Program peningkatan literasi digital seperti “Literasi Digital untuk Masyarakat Positif” harus diperluas hingga ke daerah pedesaan, yang melibatkan sekolah, organisasi masyarakat dan pemimpin local sebagai ujung tombak.
Solusi yang terakhir yaitu dengan pemanfaatan teknologi alternatif. Penggunaan teknologi alternatif seperti jaringan dengan basis satelit ataupun perangkat IoT (Internet of Things) dapat menjadi solusi bagi Indonesia dalam melakukan penyebaran internet ke daerah dengan kondisi geografis yang ekstrem. Seperti pegunungan dan pulau-pulau terpencil. Beberapa solusi diatas diharapkan oleh banyak masyarakat guna mengatasai kesenjangan akses internet di Indonesia.
Kesenjangan akses internet adalah cerminan dari tantangan yang besar dalam mewujudkan Indonesia yang inklusif secara digital. Namun, tantangan ini membuka peluang dan kesempatan bagi pihak pemerintah, swasta, dan masyarakat untuk bekerja sama dalam menciptakan solusi yang inovatif dan kreatif. Dengan komitmen Bersama. Internet dapat menjadi alat pemberdayaan yang benar dan bisa merata. Tidak hanya untuk daerah perkotaan tetapi juga pelosok negeri.[]
Penulis :
Gyfandi Mecca Firstson Cusy, mahasiswa Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang