![]() | |
Amelia Sari, Mahasiswi Prodi Ekonomi, Universitas Bangka Belitung (Foto : Ist) |
Setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi unik yang tentunya berbeda-beda dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Kalau ketupat identik dengan Hari Raya Lebaran, di Desa Tempilang, kabupaten Bangka Belitung. Ketupat menjadi salah satu tradisi untuk menyambut bulan suci Ramadhan.
Nah di tempilang perang ketupat merupakan salah satu ritual upacara kebanggan masyarkat Desa Tempilang ini telah berlangsung sejak dahulu sacara turun temurun yang di selenggarakan di pantai pasir kuning. . ini merupakan bagaian dari tradisi yang ada di Kepulauan Bangka Belitung, tepatnya di desa Air Lintang. Tradisi perang ketupat atau yang sering kita ketahui acara ruahan yang sampai saat ini masih di lestarikan di desa Tempilang, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung. Jarak dari ibukota Bangka Barat (Mentok) ke lokasi sekitar 36 KM.
Tradisi ini bertujuan untuk mencapai kesejahteraan dan mewujudkan kesatuan masyarakat yang kokoh dengan meminta keselamatan dan perlindungan kepada Tuhan yang Maha Esa agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan yang sering warga sekitar ketahui menghindari Balak. Menurut sejarahnya perang ketupat bermula pada tahun 1883, hal ini berarti tradisi ketupat sudah berlangsung selama 137 tahun, bertepatan dengan terjadinya letusan gunung berapi Krakatau.
Perang ketupat diadakan peda bulan ruah atau bulan Sya’ban dalam kalender Hijriyah, Biasanya dimulai pada tanggal 15 Sya’ban atau minggu ketiga dibulan tersebut. Prosesi adat perang ketupat sebenarnya sudah mulai dilakukan pada malam harinya, yang di sebut penimbongan. Ritual ini dilakukan oleh tiga orang dukun kampung, yakni dukun darat, dukun laut, dan dukun tua. Dukun yang di maksud disini mereka yang memiliki sihir dan kekuatan ghaib atau tokoh masyarakat yang berperan penting dalam suatu daerah.
Dukun Laut dan Dukun Darat bersanding membacakan mantra-mantra di depan ketupat yang berjumlah 40 butir. Ketupat disusun rapi di atas tikar pandan. Pemuda berjumlah 20 orang pun diatur berdiri berhadap-hadapan. Mereka saling berebut dan saling lempar ketupat sebagai senjata. Setelah suasana kacau, salah satu dukun meniup peluit tanda perang ketupat tahap pertama selesai. Selanjutnya tahap kedua akan di mulai lagi dengan proses yang sama.
Upacara Perang Ketupat ini diakhiri dengan Upacara Nganyot Peraeu ( Upacara menghanyutkan perahu mainan yang dibuat dari kayu) sebagai tanda mengantar para makhluk halus pulang agar tidak menggangu masyarakat di Desa Tempilang.
Keistimewaan upacara Perang Ketupat ini tampak pada acara yang penuh dengan tarian tradisional(Tari Campak, Tari Serimbang, Tari Kedidi, Tari Saremo, dan Tari Kamei) dan Upacara tambahan seperti Upacara Penimbongan, Ngancak, Perae. Dalam upacara ini pengunjung seakan diajak masuk ke dalam dunia mistis Ketika tiba-tiba empat dukun secara bergantian tidak sadarkan diri. Ketika dukun yang satu disadarkan, tetapi dukun satunya lagi tidak sadar sehingga semua dukun nya mengalamani kesurupan semua. Dan dari acara perang ketupat ini banyak menggundang penasan dari kalangan wisatawan dalam luar negeri untuk menyaksikan ritual adat perang ketupat ini sehingga menjadi kebanggan bagi daerah nya tersendiri apabila proses adat ini menjadi popular dan dikenal oleh banyak negara lain.[]
Pengirim :
Amelia Sari, Mahasiswi Prodi Ekonomi, Universitas Bangka Belitung